Surabaya,Alipers.Com- Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mendorong pemanfaatan anggaran untuk kegiatan Generasi Z (Gen Z) di tingkat Rukun Warga (RW) tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Anggaran sebesar Rp5 juta per bulan diarahkan menjadi modal kegiatan produktif yang mampu menggerakkan perekonomian dan menciptakan pendapatan bagi pemuda.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pelaksanaan program tersebut masih menjadi tahap pembelajaran awal. Oleh karena itu, anggaran tidak diarahkan untuk kegiatan-kegiatan yang hanya bersifat seremonial atau kepanitiaan, melainkan aktivitas yang dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
“Jadi, kita memang tidak memberikan anggaran ini untuk kegiatan yang bersifat kepanitiaan (seremoni). Tapi yang bersifat bagaimana bisa menggerakkan pendapatan, ekonomi, dan mendapat penghasilan,” ujar Wali Kota Eri, Jumat (11/9/2026).
Menurut dia, sejumlah kegiatan yang digagas anak muda telah berjalan di sejumlah kelurahan dan kecamatan. Pemkot Surabaya bersama DPRD juga terus mendorong agar pemanfaatan anggaran tersebut dapat berkembang dan memberikan manfaat bagi pemuda. “Banyak yang sudah berjalan. Ada di banyak kelurahan kecamatan, sehingga masih ada waktu,” katanya.
Wali Kota Eri menekankan bahwa program tersebut diarahkan agar anak muda berani membangun usaha dan tidak menjadikan anggaran pemerintah sebatas sumber pembiayaan kegiatan atau kehormatan kepanitiaan.
“Bagaimana dia bisa memanfaatkan untuk suatu keinginan perekonomian yang bisa mendapatkan penghasilan untuk mereka. Jadi, kita terus mendorong sehingga insyaallah nanti bisa dimanfaatkan,” tutur Cak Eri, sapaan lekatnya.
Salah satu peluang usaha yang tengah dikembangkan yakni kerja sama dengan sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka). Cak Eri menyebutkan, pembicaraan telah dilakukan dengan sejumlah kelompok Gen Z di beberapa kecamatan, termasuk untuk pengembangan usaha laundry.
“Sudah ada pembicaraan dengan Horeka dari beberapa teman-teman Gen Z yang ada di beberapa kecamatan. Semoga mereka nanti bisa memegang laundry-nya, bisa memegang titik lain. Karena mereka tinggal membeli alat laundry sesuai dengan standar yang diinginkan oleh Horeka tadi,” katanya.
Selain itu, Cak Eri juga menggarisbawahi bahwa pemanfaatan anggaran tersebut harus disertai perencanaan yang jelas. Pemuda yang mengusulkan penggunaan anggaran perlu memiliki metode kerja dan rencana usaha agar kegiatan yang dijalankan dapat menghasilkan pendapatan.
“Jadi mereka harus punya metode kerja, punya rencana kerja, dan setelah itu bisa membuat perubahan bisnisnya. Sehingga dia bisa melakukan bisnis itu dan menghasilkan pendapatan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Cak Eri kembali menekankan bahwa program tersebut bertujuan untuk menggerakkan ekonomi pemuda sekaligus bertujuan mengurangi kemiskinan di Surabaya. Ia pun mendorong perubahan pola pikir para pemuda dalam memanfaatkan anggaran pemerintah.
“Maka kita harus mengubah cara pola pikir, mengubah cara berpikir bahwa uang yang diberikan bukan hanya untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial dan sifatnya hanya untuk kepanitiaan,” tutupnya.
