Surabaya,Alipers.com
Aktivitas sejumlah warung remang-remang di kawasan pesisir sekitar Jembatan Suramadu kembali menjadi sorotan publik. Meski telah memasuki bulan suci Ramadan, tempat-tempat tersebut diduga masih beroperasi secara bebas hingga larut malam dengan memutar musik keras serta menghadirkan perempuan pemandu karaoke yang menemani para tamu.
Kondisi tersebut dinilai tidak menghargai kesucian bulan Ramadan dan memicu dugaan adanya pembiaran dari aparat setempat. Bahkan beredar dugaan bahwa oknum Camat, Lurah hingga aparat Satpol PP menerima “atensi” dari para pedagang warung di kawasan tersebut, sehingga aktivitas tetap berjalan tanpa penertiban yang tegas.
Pimpinan Redaksi ALIPERS AKTUAL Leading Information, Mahrus Ali, bersama wakil Ketua Harian DPD Jatim Madas Sedarah H. Didik, mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Keduanya menilai jika benar praktik tersebut dibiarkan, maka hal itu menjadi preseden buruk bagi penegakan aturan dan moralitas di wilayah pesisir Suramadu.
“Ini bulan suci Ramadan, seharusnya ada penghormatan terhadap nilai-nilai masyarakat. Jika benar ada praktik prostitusi berkedok warung remang-remang dan dibiarkan, tentu ini sangat memprihatinkan,” tegas Mahrus Ali.
Di sejumlah warung, terlihat perempuan pemandu karaoke duduk menemani para tamu yang datang hingga larut malam. Situasi ini memunculkan dugaan kuat adanya praktik prostitusi terselubung di balik aktivitas warung remang-remang tersebut.
Sorotan juga datang dari anggota DPRD Kota Surabaya Komisi A yang akrab disapa Bang Udin. Ia menegaskan bahwa persoalan ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan aparat penegak Peraturan Daerah.
Menurutnya, jika terbukti ada pembiaran atau bahkan keterlibatan oknum aparat dalam praktik tersebut, maka perlu dilakukan investigasi dan penindakan tegas.
Masyarakat kini menunggu langkah nyata dari pemerintah daerah, Satpol PP, serta aparat terkait untuk menertibkan aktivitas yang dinilai meresahkan dan tidak menghormati bulan suci Ramadan di kawasan pesisir Suramadu.
