Surabaya,Alipers.Com- Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi fenomena dampak El Niño yang diprakirakan masih berlangsung hingga Februari 2027. Kondisi tersebut berpotensi membuat cuaca Surabaya lebih kering dan memundurkan awal musim hujan.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Warga tetap dapat beraktivitas seperti biasa dengan meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap paparan panas, ketersediaan udara bersih, serta potensi kebakaran akibat kondisi lingkungan yang lebih kering.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widyanto mengatakan, dampak El Niño yang paling perlu diperhatikan masyarakat adalah kondisi lingkungan yang semakin kering sehingga meningkatkan risiko kebakaran. Oleh karena itu, kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah terjadinya bencana.
“Kita harus selalu waspada karena ketika paparan sinar matahari berlangsung terus-menerus, kekeringan dapat meningkat.Kondisi tersebut membuat bahan-bahan di sekitar menjadi lebih mudah terbakar,” kata Irvan, Kamis (10/9/2026).
Irvan mengingatkan warga untuk tidak membakar sampah di lahan terbuka. Dalam kondisi kering, api lebih mudah menjalar dan dapat memicu kebakaran, termasuk di kawasan organisasi.
Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi tubuh ketika beraktivitas di luar rumah. Saat matahari sedang terik, aktivitas di luar ruangan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi cuaca. Warga dapat menggunakan pelindung seperti topi atau payung serta kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi agar tidak mengalami dehidrasi.
“Karena kondisi El Niño dapat berlangsung cukup lama, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Hindari membakar sampah di lahan terbuka, kurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, dan bijak menggunakan air bersih,” ujarnya.
Selain menjaga diri dari paparan panas, warga juga diimbau menggunakan air bersih secara bijak. Penghematan udara diperlukan untuk menjaga ketersediaan sumber daya air selama periode kemarau yang lebih kering.
Menurut Irvan, kewaspadaan tersebut terutama penting di kawasan organisasi padat. Kesadaran setiap warga untuk mencegah sumber api maupun menjaga lingkungan menjadi langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar terhadap keselamatan bersama.
“Terutama di rumah-rumah padat penduduk, kerawanannya cukup tinggi. Oleh karena itu, antisipasi harus dimulai dari kesadaran masing-masing individu,” katanya.
BPBD Surabaya pun tidak menunggu sampai terjadi bencana. Upaya mitigasi dan pendidikan dilakukan secara berkelanjutan melalui sekolah, pondok pesantren, lingkungan warga, hingga media sosial. “Langkah tersebut ditujukan agar masyarakat memahami risiko cuaca kering sekaligus mengetahui cara sederhana untuk menguranginya,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan menjelaskan, El Niño merupakan fenomena iklim alamiah yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian tengah dan timur. Fenomena tersebut dapat mempengaruhi pola cuaca di Indonesia, terutama dengan menurunkan curah hujan dan membuat kondisi kemarau menjadi lebih kering.
“Secara umum, dampak El Niño di Indonesia adalah berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah. Ketika curah hujan berkurang, sumber daya air seperti waduk, sungai maupun sumur juga dapat mengalami penurunan,” jelas Taufiq.
Dikatakannya, kemarau yang terjadi bersamaan dengan El Niño dapat menjadi lebih kering dan berpotensi lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Dampaknya antara lain meningkatnya risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan udara, serta potensi kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi tersebut juga berpotensi memundurkan awal musim hujan. Berdasarkan prakiraan BMKG dan Badan Meteorologi Dunia, El Niño diperkirakan masih berlangsung hingga Februari 2027.
“Dampaknya, awal musim hujan berpotensi mengalami penurunan. Oleh karena itu, mitigasi perlu diperkuat, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi kemarau,” ujarnya.
Khusus Surabaya, Prakirawan BMKG Juanda, Siska Anggraeni menyampaikan bahwa wilayah tersebut masih berada pada puncak musim kemarau. Warga akan lebih sering merasakan suhu panas dan terik pada siang hari, sementara kelembapan udara cenderung lebih rendah.
Pada bulan September hingga November, curah hujan di Surabaya diperkirakan masih relatif rendah. Pengaruh El Niño yang masih cukup kuat juga berpotensi membuat awal musim hujan datang lebih lambat.
“Pengaruh El Niño yang masih kuat ini kemungkinan akan memundurkan awal musim hujan. Jadi, curah hujan masih relatif rendah karena kondisi kemarau yang diperkuat oleh fenomena tersebut,” ujar Siska.
Siska menjelaskan, minimnya tutupan awan membuat radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi sehingga siang hari terasa lebih panas. Kondisi tersebut semakin terasa di wilayah perkotaan akibat efek panas perkotaan atau pemanasan perkotaan.
“Meski begitu, masyarakat tidak perlu panik. Kewaspadaan dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana, seperti menyesuaikan aktivitas saat cuaca sangat panas, mencukupi kebutuhan udara, serta menjaga lingkungan dari sumber-sumber api,” terangnya.
Prakirawan BMKG Juanda, Andrie Wijaya menambahkan, setiap wilayah di Surabaya memiliki potensi yang berbeda-beda selama periode kemarau. Surabaya Barat dan Selatan, yang memiliki lebih banyak vegetasi dan lahan terbuka, perlu lebih waspada terhadap potensi kebakaran. Sementara wilayah Surabaya Utara dan Timur, khususnya wilayah pesisir, juga perlu mewaspadai potensi banjir rob dan angin kencang.
Untuk Surabaya Pusat, kondisi kekeringan dan angin kencang menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama karena aktivitas masyarakat yang cukup tinggi.
“Untuk hidrometeorologi kering di Surabaya, yang perlu diwaspadai antara lain meteorologi kekeringan, krisis pasokan udara bersih, serta potensi kebakaran lahan dan organisasi,” tutupnya.
